PAHLAWANKU HEBAT PAHLAWANKU MALANG


Bayangan bangunan pencakar langit meneduhkan rumahku yang kecil ini diantara bangunan – bangunan kota metropolitan yang berdiri megah menghalangi matahari terbit di timur. Pemandangan pagi hari yang selalu berpolusi tanpa pernah ada kesempatan buatku menghirup udara pagi yang segar seperti sering didengung-dengungkan warga perkotaan yang cinta lingkungan. Tapi itu semua tidak terealisasikan jika hanya segelintir warga saja yang melaksanakan yang namanya go green sampai save energy. Ku kayuh sepedaku menyusuri jalan kecil yang keadaannya rusak parah dan tak terurus, tak kuduga sepedaku menghantam kuat batu besar di pinggir lubang yang hendak kulewati. Tubuhku terhempas tak jauh dari sepeda, aku hanya bisa merintih kesakitan tanpa ada yang menolongku di jalan yang sepi ini. Luka lecet menganggu persendiaan tanganku oleh perihnya.

“Rud… Rudi… kamu kenapa?” terdengar suara memanggil namaku dari arah belakang saat ku berdirikan sepedaku dengan tangan kiriku yang tak  terluka.

“Anto, aku kira siapa.”

Di tuntunnya sepedaku ke rumahnya yang tak jauh dari tempatku terjatuh, ini tak terlhat seperti rumah tetapi lebih seperti  sebuah gubuk di tengah pematang sawah. Pandanganku berhenti saat perih lukaku mulai mengeluarkan lebih banyak darah. “Awh…” seruku pelan, saat Anto membersihkan lukaku dengan kapas. Suasana tampak kaku, apalagi aku anak baru di satu sekolahan dengan Anto yang 2 hari lalu pindah. Kami saling berdiam diri dan aku hanya memperhatikan apa yang dia lakukan pada tanganku sampai mengakhiri dengan memberi handsaplash pada lukaku. Tak disengaja pandangan kami bertemu dan untuk mengurangi kecanggunganku, ku buka percakapan kami dengan pertanyaan yang biasa di katakana seorang teman saat melihat temannya belum mengenakan seragam sekolah padahal jam sudah menunjukkan waktu untuk berangkat sekolah. Anto hanya menyatakan bahwa ia harus melakukan sesuatu sebelum berangkat sekolah.

Saat kami putuskan untuk sekolah walaupun sepertinya akan terlambat sekali, aku menunggu Anto yang sedang mengganti seragam di luar, hmm… seperti ruang tamulah istilahnya walaupun ini hanya tempat untuk duduk-duduk yang tak terlalu luas untuk berbanyak.

Karena aku bukan orang yang suka menunggu, kuputuskan untuk sekedar berdiri sambil berjalan melihat-lihat, seperti photo misalnya. Tampak sebuah photo menarik perhatianku seorang pria dengan segudang piala dan banyak medali melingkar di lehernya. Pria itu besar, tegap dan seperti seorang olahragawan dengan otot lengannya yang besar. Saat ingin aku memegangnya, suara Anto mengajak berangkat mengagetkanku. “Ayooo…” jawabku dengan singkat, sebelum pertanyaan muncul di benakku sepanjang perjalanan siapa orang di photo itu yang terlihat begitu bahagia.

Kami memang terlambat nyatanya sampai di sekolah sampai guru menasehati dan memarahi kami. Namun itu tidak sebanding jika pelajaran yang terlewatkan, jika tidak sekolah. Saat pelajaran Bahasa Indonesia oleh Ibu Setiawati berlangsung dengan tema Harapan, Impian dan Cita-cita kami mengikuti dengan serius, apalagi itu membahas mengenai Proklamasi yang menjadi cita-cita bangsa Indonesia di jaman penjajahan dahulu. Saat ibu guru bertanya padaku apa cita-citaku, aku dengan lantang menjawab “Dokter” seperti kebanyakan anak-anak lain seusiaku. Tiba-tiba semua murid terdiam tanpa sibuk memikirkan apa cita-cita mereka yang baru menginjak kelas 4 SD. Anto dengan tegas dan jelas mengatakan dia ingin menjadi seorang Pahlawan seperti ayahnya.

“An,,, tadi kenapa kamu bilang cita-citamu pengen jadi pahlawan? Mana mungkin? Kita kan hidup dijaman merdeka tak seperti jaman penjajahan dulu…” seruku santai saat kami menuntun sepeda kami yang terparkir di halaman belakang sekolah. Suara besi sepedanya yang telah tua berderit ketika di jalankan.

“Ya tidaklah Rud, saya tahu kok ini bukan jaman penjajahan. Tapi kita bisa menjadi pahlawan dengan mengharumkan nama Negara ini di kancah Dunia.” Ujarnya masih tetap menuntun sepedanya. Aku yang mengendarai sepeda berada di depannya dengan mengayuh pelan-pelan.

“O… itu saya mengerti, trus kenapa seperti ayahmu?”

“Kamu tau kan petinju yang terkenal karena prestasinya hingga Internasional di tahun 80’an ?”

“Hmm… tidak sih, kan aku belum lahir saat itu“ jawabanku membuatnya tertawa walau hanya sekilas.

“Itulah ayahku” sambil menunjuk seorang pria yang sedang mengangkat karung beras di tengah sawah samping jalan yang kami lewati sebelum akhirnya kami terpisah oleh jalan yang bercabang menuju jalan rumah masing-masing. Anto tersenyum kearahku dan melambaikan tangannya, aku pun membalas lambaikan tangan.

Aku masih tidak mengerti sampai tiba dirumah ayah sedang membaca surat kabar menyambutku dengan ucapan selamat datang. “Ayah sedang membaca apa?” tanyaku iseng agar suasana cair.

“Biasa berita korupsi, kejahatan dan terakhir ayah baca mengenai rumah veteran yang akan digusur karena tanah yang ia tempati milik pemerintah” ujar ayahku yang kental logat Bataknya.

“Ayah, apa itu veteran?”

“Veteran itu pahlawan, tapi mereka masih hidup hingga saat ini. Yang usianya kebanyakan tua.”

“Jika kita mengharumkan nama bangsa apa bisa disebut pahlawan?”

“Bisa, itu pahlawan pembangunan di era globalisasi saat ini. Kenapa kamu Rudi? Tumben banyak Tanya nih, begitu harusnya jadi generasi muda yang kritis dan peduli perkembanan negeri ini, jangan acuh tak acuh, kasihan pahlawan yang telah mengorbankan nyawanya untuk kemerdekaan negeri ini.”

“Iya ayah J” bergegas ku mengganti pakaian ke kamar, terbayang perkataan ayah tadi dan berita veteran yang digusur membuatku sedih kepada kebijakan pemerintah yang tak patut untuk seorang pahlawan yang bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk negeri ini. Dan untuk ayah Anto yang seorang olahragawan yang sudah mengharumkan nama bangsa ini sampai kancah Internasional dan memegang predikat juara kini hidup susah membiayai keluarganya, bahkan rumahnya pun tidak bisa dibilang sebuah rumah. Apakah tidak ada penghargaan dari pemerintah mengenai masalah seperti begini? Kemana tugas mereka yang mensejahterakan rakyat? Aku hanya mampu berkonflk dalam hati tanpa bisa menyampaikannya pada pemerintah, apa sih artinya seorang anak kecil seperti aku? Aku hanya kasian pada temanku Anto yang selalu bangga dengan ayahnya yang seorang petinju hebat kini menjadi kuli tua yang membopong banyak kardus dan karung di lengannya yang dulu berharga. Ya Tuhan, semoga Anto tidak bernasib sama seperti itu. Siapa yang akan peduli seorang pria tua berpakaian lusuh ? siapa peduli bahwa mereka itu pahlawan? Bahkan aku tak tahu seorang yang telah berharga mengharumkan nama negeri ini, orang dewasa hanya mampu menasehati “kau harus sukses” tanpa pernah menceritakan sejarah seperti jaman dulu dimana para orang tua berdongeng kepada anak-anaknya menjelang tidur, aku hanya mendengar sejarah dari pelajaran disekolah! Bagaimana dengan mereka yang tidak sekolah? Membaca pun tentu tak bisa apalagi belajar sejarah .Mungkinkah sebuah tinta emas tersisa untuk mengukir nama Ayahnya sebagai seorang pahlawan ?  sebagai bangsa yang besar dan tau berterimakasih seharusnya kita mampu menghargai jasa-jasa mereka…

 

 

Ade Emelan Tantri Melani
SMA Negeri 1 Gianyar

 

Categories: Cerpen, KREASI | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: