Anak Laut, Adakah Matahari di Horizon?


Senja merah di pantai Melaya, pantai berpasir gelap yang tenang. Sang mentari yang masih perkasa seakan enggan masuk ke peraduan. Tapi siapa juga yang mampu melawan takdir semesta? Berangkatnya sang surya ke peraduan justru mempercantik senja.

Kuluruskan kaki yang pegal setelah berlari sepanjang pantai. Chiko, anjingku yang selalu setia menemaniku berlatih untuk menghadapi lomba lari 10K yang akan dilangsungkan 2 minggu lagi dalam rangka hari ulang tahun kotaku, mengibas-ngibaskan ekornya, melompat-lompat ke sana kemari mengajakku bermain lempar-tangkap seperti biasanya. Tak lagi kuhiraukan dia.

Sebuah perahu kecil berangkat melaut. Dua anak kecil membantu nelayan tua mendorong perahu, tertawa riang kemudian melompat kedalam perahu yang mulai berlayar.

”Maaatt !!” seorang perempuan tua berlari membawa bungkusan berteriak memanggil perahu yang perlahan beranjak meninggalkan pantai.

”Selalu kau lupa bawa nasi ! Makan apa kau nanti ?!”

”Ya Maaak!” Si kakak melompat turun dari perahu, berlari ke tepian dan kembali mengejar perahu yang seakan tak ingin menunggu.

”Baangg!” Masih sempat dia menyapa dan melambai padaku. Kubalas lambaiannya dengan semangat.

Perahu kecil layar biru, nelayan tua, dua anak lelaki kecil tertawa memegang dayung, berlatar belakang langit jingga. Sungguh indah bila terlukis diatas kanvas. Andaikan saja aku seorang maestro, pasti momen indah ini sudah menjadi lukisan di atas kanvasku. Sayang, tak setetespun darah seni mengalir di tubuhku.

Mak Tua kembali ke rumahnya. Rumah ? Aku sendiri bahkan tidak yakin apakah tempat tinggal mereka pantas disebut rumah. Gubuk kecil berdinding anyaman bambu yang tak lagi utuh, beratapkan daun rumbia.

Tiba-tiba terbayang dalam khayalanku lukisan indah sang maestro. Masih indahkah bila itu menjadi realita kehidupan? Kehidupan keras yang merampas masa bermain dan belajar? Kehidupan keras yang suatu ketika memaksa mereka melawan badai, pada saat anak-anak lain terlelap, hangat dipelukan sang bunda?

Anak-anak laut, anak-anak yang dengan ikhlas menerima bahwa garis hidup mereka adalah perjuangan di laut. Anak-anak yang sudah cukup bahagia hanya karena pasir pantai masih terasa hangat diinjak, menyisakan kerang dan ikan buntal di tepiannya, anak-anak yang sering belajar di kelas terkantuk-kantuk karena pulang pagi setelah semalaman melaut, dan kemudian berhari-hari tidak masuk karena musim panen ikan tiba.

Bermain dan belajar. Itulah sesungguhnya dunia anak-anak. Tetapi dunia yang indah itu jarang dapat dimasuki anak-anak laut. Dunia mereka lebih banyak  bekerja, membantu orangtua mengais rejeki di tengah derasnya arus lautan. Disanalah mereka bermain, di sana pula mereka belajar. Bermain dengan nasib dan belajar untuk bertahan hidup. Tetapi belajar yang sesungguhnya, belajar yang nantinya akan meningkatkan taraf hidup mereka, belajar di sekolah formal dan menyandang status siswa, belajar dan akhirnya meraih gelar tertentu, masih merupakan mimpi bagi sebagian besar anak-anak laut, mimpi yang dirasakan masih tergantung tinggi, jauh dari harapan untuk bisa menggapainya.

Pendidikan memang sudah digratiskan. Namun, apakah mereka juga bisa mendapatkan kemudahan pendidikan hanya karena biaya SPP yang telah disubsidi oleh pemerintah? Melihat dari kondisi ekonomi serta tempat tinggal mereka yang relatif jauh dari lingkungan sekolah, mungkin gratisnya SPP hanya membantu sebagian kecil dari kebutuhan sekolah. Baju seragam, sepatu, buku-buku pelajaran, dan bekal sekolah masih merupakan masalah besar.

Bagaimana dengan beasiswa? Sepertinya dapat memecahkan masalah. Tunggu dulu! Waktu yang lebih banyak tersita untuk melaut menyebabkan mereka jarang dapat belajar, yang pada akhirnya akan mempersulit mereka untuk memperoleh beasiswa prestasi. Sementara mereka yang berkesempatan mendapat beasiswa miskin pun juga tidak selalu bisa rajin ke sekolah. Mungkin bukan lagi karena tidak punya sepatu atau tidak bisa membeli buku, tetapi sekali lagi, ekonomi keluarga masih memerlukan tenaga mereka.

Kehidupan nelayan, yang hanya berladang di laut, mengandalkan kemurahan hati samudra menyerahkan ikannya, mengharapkan belas kasih cuaca untuk tidak meniupkan badainya,  bagaikan gelombang laut yang kadang pasang kadang surut. Sementara kebutuhan hidup setiap hari tak pernah bisa menunggu. Karena itu, mau tidak mau anak-anak pun harus terlibat dalam keseharian kerja orang tuanya. Pada masa panen, tenaga mereka diperlukan untuk membantu mengais rejeki sebanyak mungkin. Karena para nelayan tradisional ini harus bersaing dengan kapal pukat harimau yang dengan rakusnya melahap semua ikan. Ironisnya, pada masa paceklik, ketika angin yang ganas seakan melarang semua perahu menyentuh samudra, ketika mereka tidak harus lagi membantu ayahnya menarik jaring, ketika ada banyak waktu untuk kembali belajar, mereka juga tak bisa ke sekolah karena tidak memiliki bekal yang cukup. Kalau pun harus berangkat, itu pun lebih sering berangkat dengan perut kosong. Bagaimana pendidikan akan berhasil kalau setiap hari mereka harus melalui kehidupan seperti ini? Bagaimana masa depan akan membaik bila pendidikan yang layak, sebagai jembatan meraih sukses tak pernah mampu dibangun ? Sungguh satu kehidupan yang pahit.

Memang kehidupan mereka setiap hari tampak indah, karena mentari yang selalu bersinar dan ombak yang tak henti bernyanyi. Tetapi, masihkah semuanya sempat dinikmati bila mereka harus berburu rejeki, menantang alam yang terkadang tidak mau bermurah hati ? Bila yang didapat hari ini akan habis hari ini ? Bila yang menghadang di depan, badai atau pelangi, belumlah pasti? Anak laut, adakah mentari di horizon untukmu ?

Aku tersadar dari lamunan ketika Chiko menjilat-jilat kakiku. Langit mulai gelap. Aku bergegas pulang. Melewati rumah-rumah kecil beratap rumbia.

*

Kulihat Mamat duduk memeluk lutut, membuat goresan-goresan di pasir pantai ketika kembali aku berlatih di pantai.

”Kau tak melaut hari ini, Mat?”

Aku setengah bersyukur Mamat tak melaut. Pasti ibuku, guru Mamat di SD 2 Melaya, tak lagi membawa pulang keluhan Mamat dan teman-temannya tertidur di kelas keesokan harinya.

”Tidak lagi Bang.”

”Oh, Mak kau melarang ?”

”Tak Bang. Bapak tak lagi melaut. Bapak pergi.”

”Kemana Mat?”

”Ke Malaysia Bang. Katanya di sana banyak pekerjaan. Gajinya gede.”

”Kapan bapak kau berangkat Mat?”

”Baru tadi pagi. Kemarin ada orang yang datang ke rumah ngajak Bapak kerja. Wak Mahmud dan Wak Isman juga ikut. Banyak yang berangkat tadi.”

”Wah hebat kau Mat, pasti kau dibelikan sepeda motor nanti.”

”Aku minta HP Bang. Adik minta play station.”

Amat tersenyum lebar memamerkan giginya yang besar-besar dan jarang tersentuh pasta gigi. Sungguh Mat, aku ikut senang, bisikku dalam hati.

*

Teh hangat dan pisang goreng yang baru dibawakan ibu belum lagi sempat kunikmati ketika Vita, adikku satu-satunya menghidupkan TV.

”Vita, sini remote-nya. Kakak mau lihat Top Nine News- nya Metro TV.”

Vita merengut, tak mau melepas remote., bersikeras nonton sinetron kesayangannya. Dia makin marah ketika kupaksa, akhirnya pergi sambil menangis. Biar saja. Toh sebentar juga lupa. Aku sudah ketinggalan berita.

Pisang goreng hangat kuletakkan lagi di piring ketika kudengar pembawa berita mengatakan banyak TKI gelap di Malaysia tertangkap, TKI gelap dihukum cambuk, TKI gelap dipaksa mencebur ke laut ketika turun dari kapal yang membawanya ke Malaysia secara illegal, TKI gelap ……

Berita selanjutnya tak bisa lagi terdengar. Pikiranku sibuk. Bayangan Mamat, adiknya dan Mak Tua datang silih berganti.

Gusti Ngurah Arya Bayu Permadi
SMA Negeri 1 Melaya

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: